sejarah kelapa sawit
Tanaman Kelapa Sawit berasal :
Dari Afrika dan Amerika Selatan
Diusahakan secara komersial : Di Afrika, Amerika Selatan, Asia Tenggara dan
Penemu kelapa sawit :
Jacquin (1763) Menklasifikasikan K. Sawit Afrika sebagai E. guineensis
Individu dengan kromosom n=16 Jenis ini berhasildidomestikan pada abad 16-17 atau sebelumnyaDasarnya adalah ditemukannya senyawa sejenis M.
Sawit di makam-makam orang Mesir
Zeven
(1965) nama E.guineensis berdasarkan deskripsi para ahli botani dan
penjelajah di benua afrika (Yoruba, Fanti-Twi dan Kikongo)
Nama dende di brasilia berasal dari kata ndende di
Anggola.Ditemukan fosil tepung sari dari kala Miosen, mirip
dengan tepung sari K.sawit.
• Cook (1942) yakin kelapa sawit berasal dari Brasilia, ditemukan tumbuh di tepi sungai
terutama spesies dalam sub famili cocoideae.
• K.sawit Amerika selatan Mula-mula dinamakan E. melanococca
• Diganti oleh Bailey (1940) menjadi Corozo oleifera (dapat disilangkan dengan E.guineensis
• Wessels-Boer (1965) menggolongkan sebagi Elaeis, sehingga namanya dirubah menjadi E.
oleifera
• Wessels-Boer juga menambahkan species ketiga dengan nama E. odora (dulu Bracella odora),
yaitu K. Sawit yang memiliki inflouresen
Biseksual
InInflouresens Biseksual
Dikenal sebagai gejala abnormalBunga betina berada pada spikelet yang terbawah
dan bunga jantan di atasnyaTerkadang juga terdapat pada E. guineensis
Sejarah perkebunan kelapa sawit
Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial dengan perintisnya di Hindia Belanda adalah Adrien Hallet, seorang Belgia, yang lalu diikuti oleh K. Schadt. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123 ha. Pusat pemuliaan dan penangkaran kemudian didirikan di Marihat (terkenal sebagai AVROS), Sumatera Utara dan di Rantau Panjang, Kuala Selangor, Malaya pada 1911-1912. Di Malaya, perkebunan pertama dibuka pada tahun 1917 di Ladang Tenmaran, Kuala Selangor menggunakan benih dura Deli dari Rantau Panjang. Di Afrika Barat sendiri penanaman kelapa sawit besar-besaran baru dimulai tahun 1910.
Hingga menjelang pendudukan Jepang, Hindia Belanda merupakan pemasok utama minyak sawit dunia. Semenjak pendudukan Jepang, produksi merosot hingga tinggal seperlima dari angka tahun 1940.
Usaha peningkatan pada masa Republik dilakukan dengan program Bumil (buruh-militer) yang tidak berhasil meningkatkan hasil, dan pemasok utama kemudian diambil alih Malaya (lalu Malaysia).
Baru semenjak era Orde Baru perluasan areal penanaman digalakkan, dipadukan dengan sistem PIR Perkebunan. Perluasan areal perkebunan kelapa sawit terus berlanjut akibat meningkatnya harga minyak bumi sehingga peran minyak nabati meningkat sebagai energi alternatif.
Beberapa pohon kelapa sawit yang ditanam di Kebun Botani Bogor hingga sekarang masih hidup, dengan ketinggian sekitar 12m, dan merupakan kelapa sawit tertua di Asia Tenggara yang berasal dari Afrika.